Anime – Konten Media Khas Jepang dan Pembentukan Karakter

Anime secara literal berarti animasi, kata ini diambil dari singkatan animeshon, cara lafal Jepang dalam menyebutkan kata Inggris “animation”. Sekarang kata anime ini disematkan secara eksklusif untuk kartun yang berasal dari Jepang saja, jadi Pooh, Mickey Mouse, Cinderella, dan kawan-kawannya tidak termasuk keluarga anime. Dulu di Indonesia setahu saya belum ada sebutan “penggemar anime”, yang ada ya anak-anak yang suka nonton kartun. Sekarang, “penggemar anime” punya kekhususan sendiri, mereka tidak mau disamakan dengan pecinta Pixar atau Disney.Pulang sekolah, hidupkan TV, nonton kartun Samurai-X. Hari Minggu seharian di depan TV nunggu Inuyasha. Ke pasar cari baju ala pelaut biar mirip Sailormoon. Aaah.. memori masa kecil.. Ternyata selain tumbuh dengan ajaran agama, eksotisme cerita rakyat dari berbagai daerah, kita juga tumbuh dengan nilai-nilai dan budaya Jepang yang tercermin dari anime. Tidak semua orang merasakan ini memang, tapi saya yakin sebagian besar pernah gandrung sama kartun Jepang, setidaknya Doraemon.

Para pecinta anime pun mendapatkan label bermacam-macam dari masyarakat. Pria biasanya akan dikatakan kekanak-kanakan, introvert, atau jomblo sejati kalau mereka menyukai anime. Sedangkan wanita penggemar anime akan dibilang imut (lumayan ada positifnya), kekanak-kanakan, delusional romansa (aduh nyesek). Di luar semua label itu, konten media asal Jepang yang jadi gaya hidup tersendiri ini selalu punya tempat di hati masyarakat Indonesia. Banyak pameran berskala nasional digelar di mana pemuda-pemudi berpakaian seperti karakter favoritnya, ribuan mahasiswa menjalani suka-duka kesehariannya bersama anime di kos-kosan, dan makanan Jepang makin laris karena penonton tergiur oleh makanan di anime.

Sadar atau tidak, anime pun punya banyak andil dalam membentuk budaya hidup penggemarnya:

  • Salah satu contohnya, saya pribadi jadi suka merapikan kamar dan menghias kamar karena terinspirasi dari setting ruangan di komik serial cantik dan kamar Kagome (Inuyasha), contoh gambar kamar rapih di buku pelajaran Bahasa Indonesia tidak sedetail di komik dan anime sih.
  • Manfaat lain adalah internalisasi budaya kebersamaan yang sangat kental di budaya Asia, ini paling terlihat dari dinamika persahabatan, tema umum yang dibawa oleh hampir semua anime. Biasanya persahabatan ini digambarkan bisa mengalahkan bullyingand I think this is a great message for anime lovers.
  • Waktu SMA dulu saya juga pernah baca kalau anak-anak yang gemar nonton animasi memiliki kecerdasan spasial (ruang, matematis) yang lebih baik karena mereka lebih mudah dalam mengilustrasikan hal-hal yang abstrak di dalam benaknya. Nyatanya, siswa berprestasi di sekolah ternyata memang penggemar Bleach, Gundam, Pokemon, dsb.
  • Ketika dewasa ini dikenalkan pada beberapa anime oleh suami (buat yang penasaran:Attack on TitanMirai NikkiAnother, School-Live!), saya juga baru ngeh ada kompleksitas dan keindahan dalam penyusunan plot serta karakternya. Bahkan terkadang jauh lebih kompleks daripada film chick-lit yang sering saya tonton jaman kuliah dulu. Bahkan beberapa mengandung pesan sosial yang sangat simbolis, sampai-sampai saya harus pakai ilmu semiotik dan metafora untuk membongkar maksudnya :p

Anime secara tidak disadari adalah senjata terampuh Jepang untuk memperkenalkan budayanya, seperti halnya Korea dengan drama dan K-Pop nya. Di samping sushi, takoyaki, dan bento, budaya khas Jepang untuk selalu hormat pada atasan/sesepuh, kebiasaan rapih, dan mementingkan kebersamaan di atas kepentingan pribadi itu tersirat di dalam anime. Dan menariknya lagi, selain menjadi cerminan budaya, saya juga merasa anime ini terkadang jadi tempat pembuat cerita untuk kabur dari kekangan realitas atau kekakuan budayanya, misalnya penggambaran pria pemalu yang tiba-tiba menjadi magnet cinta teman wanita cantiknya, kemampuan memprediksi masa depan, monster dan supernatural yang datang di rutinitas sehari-hari yang membosankan, dan banyak lagi hal menarik lainnya!

Memang tidak semua orang bisa jatuh hati dengan hiburan satu ini. Banyak penikmat film barat merasa janggal dengan cara berbicara orang Jepang seperti tergambarkan di dalam anime. Beberapa gadis juga lebih mengidolakan sosok princess cantik nan tersohor (Elsa, Cinderella, Snow White) daripada gadis biasa yang kebetulan punya kesempatan untuk dekat dengan sosok pria maskulin yang sensitif (Kagome-Inuyasha dan Kaouru-Kenshin). Tapi ada juga yang bisa menikmati keduanya.

Bagaimanapun juga efek anime ini luar biasa. Saya jadi teringat joke di internet di mana Amerika mengalahkan Jepang di perang dunia, unggul dalam bisnis produk, tapi ketika di sodori anime langsung teriak, “Sugoooi Nippon-sama, daisukii desu!!”

Advertisements

Author: extendedrealities

Is reality real?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s